Jumat, 24 Agustus 2012

PENDAPATAN NASIONAL

Diposkan oleh Raissa Indah Hanjani di 03.55

A.       PENDAPATAN NASIONAL
a.         Pengertian Pendapatan Nasional
Menurut lipsey dan steiner mendefinisikan pendapatan nasional sebagai nilai dari seluruh produk yang dihasilkan oleh seluruh pelaku ekonomi dalam suatu Negara dalam satu tahun. Nilai yan dimaksud dalam perhitungan pendapatan nasional adalah nilai jual, dengan sendirinya termasuk pajak yang timbul atas transaksi penjualan barang atau jasa tersebut. Pendapatan nasional dapat juga disebut dengan produk nasional. Produk nasional mengindikasikan nilai jual dari seluruh produk yang dihasilkan, sedangkan pendapatan nasional mengindikasikan jumlah yang dibayarkan oleh seluruh pelaku ekonomi untuk menhasilkan produk tersebut. Sedangkan menurut badan pusat statistic (BPS) pendapatan nasional adalah pendapatan bersih seluruh warga negara dari suatu Negara dalam satu tahun.                                       (Pusdiklatwas BPKP, 2007)
                                                                                                               
Pendapatan nasional atau produk nasional adalah istilah yang menerangkan tentang nilai barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam suatu tahun tertentu. Dalam konsep pendapatan nasional dikenal istilah produk nasional bruto (PNB) yaitu seluruh produk yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi milik warga negara dalam suatu tahun tertentu dan Produk Domestik Bruto (PDB) yaitu seluruh produk yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi baik milik warga negara maupun orang asing dalam suatu negara pada suatu tahun tertentu. Dengan semakin terbukanya situasi perekonomian dunia, maka konsep PDB lebih umum dipakai dalam penghitungan pendapatan nasional.                                                (Sadono Sukirno, 2004)

b.      Pendekatan dalam Perhitungan Pendapatan Nasional
1.      Pendekatan produksi
Pendekatan hasil produksi atau product approach. Cara menghitung pendapatan nasional dengan pendekatan ini adalah dengan cara mengumpulkan data tentang hasil akhir barang-barang dan jasa-jasa untuk suatu periode tertentu dari semua unit-unit produksi yang menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa tersebut. Semua nilai hasil akhir barang-barang dan jasa-jasa tersebut dijumlahkan.
2.      Pendekatan pendapatan
Perhitungan pendapatan nasional dengan cara ini menghitung pendapatan nasional dari pendekatan pengembalian atas faktor produksi yang dimiliki masyarakat dalam bentuk seperti upah, sewa, bunga dan keuntungan.
Perhitungannya sebagai berikut :
NI = upah + sewa + bunga + keuntungan
NNP = NI + pajak tidak langsung
GNP = NNP + Depresiasi
Hal yang perlu diingat dalam pendekatan ini adalah bahwa bunga yang digunakan adalah bunga neto, yaitu bunga atas pinjaman yang digunakan untuk kegiatan yang produktif. Bunga atas pinjaman yang bersifat konsumtif seperti bunga atas kredit kendaraan pribadi dan pinjaman pemerintah yang kerap kali digunakan untuk tujuan lain seperti subsidi dan membayar pensiun pegawai tidak diperhitungkan dalam pendapatan nasional.

3.      Pendekatan pengeluaran
Cara ini dilakukan dengan menghitung besarnya pendapatan nasional dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh keempat sektor dalam perekonomian yaitu sektor konsumen, sektor perusahaan, sektor pemerintah dan sektor perdagangan luar negeri. Pendekatan pengeluaran disebut juga pendekatan penggunaan atau end-use approach atau penggunaan akhir dari pendapatan nasional, yaitu apakah untuk konsumsi, untuk investasi, untuk kebutuhan pemerintah ataukah untuk dipasarkan keluar negeri.             (Sadono Sukirno, 2004)

Kelemahan dari perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan ini adalah adanya kemungkinan untuk terjadinya perhitungan ganda. Perhitungan ganda terjadi karena suatu barang sering kali sebelum menjadi barang jadi harus mengalami beberapa kali proses produksi. Akibatnya barang tersebut diperjualbelikan beberapa kali di pasar sebelum barang tersebut selesai diproduksi. Untuk perhitungan dengan cara ini perlu diingat bahwa pengeluaran/konsumsi baik yang dilakukan oleh konsumen rumah tangga maupun pemerintah dalam bentuk investasi seperti membeli asuransi, mengirim uang ke orang tua (rumah tangga) dan pengeluaran untuk pembangunan infrastruktur, subsidi, pemberian beasiswa (pemerintah) tidak diikut-sertakan dalam perhitungan di atas karena pengeluaran tersebut bukanlah untuk membeli barang dan jasa yang dihasilkan dalam perekonomian.
Dari ketiga model pendekatan tersebut, pendekatan pengeluaran merupakan model yang paling sering dipakai untuk mengukur tingkat pendapatan nasional suatu negara. Dengan pendekatan pengeluaran dapat diketahui tingkat kegiatan ekonomi, yaitu sampai di mana kompleksnya permasalahan ekonomi yang dihadapi atau seberapa tinggi prestasi perekonomian yang dicapai.

c.          Hierarki Perhitungan Pendapatan Nasional
Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan pendapatan nasional yaitu Gross Domestic Product (GDP), Gross National Product (GNP) dan Net National Product (NNP).

1.      GDP (Gross Domestic product)
·         Konsep
          GDP adalah total produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh semua warga Negara yang berada di Negara tersebut baik warga Negara asli maupun warga Negara asing (akan tetapi tidak termasuk barang dan jasa yang dihasilkan warga Negara tersebut di Negara lain). Ada juga yang menyebutkan bahwa GDP adalah jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu Negara selama satu tahun. Dalam perhitungannya, termasuk juga hasil produksi dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi diwilayah yang bersangkutan. Sehingga GDP diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). GDP berbeda dari produk nasional bruto karena memasukkan pendapatan faktor produksi dari luar negeri yang bekerja di negara tersebut. Sehingga GDP hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak. GDP Nominal (atau disebut GDP Atas Dasar Harga Berlaku) merujuk kepada nilai GDP tanpa memperhatikan pengaruh harga. Sedangkan GDP riil (atau disebut GDP Atas Dasar Harga Konstan) mengoreksi angka GDP nominal dengan memasukkan pengaruh dari harga. Secara teori, GDP dengan pendekatan pengeluaran dan pendapatan harus menghasilkan angka yang sama. Namun karena dalam praktek menghitung GDP dengan pendekatan pendapatan sulit dilakukan, maka yang sering digunakan adalah dengan pendekatan pengeluaran. Produk domestik bruto ini digunakan untuk pengeluaran konsumsi, pembentukan modal, dan ekspor. Konsumsi dibedakan lagi menjadi konsumsi pemerintahan dan konsumsi rumah tangga. Ada dua cara untuk melihat statistik ini yaitu melihat GDP sebagai pendapatan total dari setiap orang di dalam perekonomian dan GDP sebagai pengeluaran total atas output barang dan jasa dalam perekonomian (Mankiw, 2003).

·         Komponen GDP
Berdasarkan GDP sebagai pengeluaran total atas output barang dan jasa dalam perekonomian, maka GDP dibagi menjadi empat kelompok pengeluaran, yaitu: konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor bersih, maka:
GDP = CON + INV + GEX + NX
GDP adalah jumlah konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor bersih. Konsumsi (CON) adalah seluruh barang dan jasa yang dibeli rumah tangga. Investasi (INV) adalah barang-barang yang dibeli untuk penggunaan masa yang akan datang. Pengeluaran pemerintah (GEX) adalah barang dan jasa yang dibeli oleh pemerintah pusat dan daerah. Ekspor netto (NX) adalah nilai barang dan jasa yang diekspor ke negara lain dikurangi nilai barang dan jasa yang diimpor dari negara lain.

Konsumsi
Keputusan konsumsi sangat penting dalam menentukan permintaan agregat. Konsumsi merupakan duapertiga dari GDP, sehingga fluktuasi konsumsi merupakan elemen penting dari booming dan resesi ekonomi. Teori konsumsi yang diajukan oleh Keynes merupakan salah satu teori yang menjadi dasar teori ekonomi makro. Keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan yang penting. Estimasi ini berlawanan dengan teori klasik yang menyatakan bahwa tingkat bunga yang tinggi akan mendorong seseorang untuk menabung dan menghambat konsumsi. Fungsi konsumsi Keynes adalah sebagai berikut (Mankiw, 2003):
CON = a + b DIC ; a > 0 dan 0< b < 1
dimana :
CON = konsumsi
DIC = pendapatan disposibel
a = konstanta
b = kecenderungan mengkonsumsi marjinal.
Fungsi konsumsi ini menunjukkan kecenderungan mengkonsumsi marjinal (perubahan jumlah yang dikonsumsi pada setiap perubahan pendapatan = DCON/DDIC) adalah antara nol dan satu, sehingga pendapatan yang tinggi akan menyebabkan konsumsi meningkat dan tabungan juga meningkat. Artinya, ketika seseorang menerima pendapatan ekstra, maka sebagian dari pendapatan tersebut akan dikonsumsi dan sebagian akan ditabung.

Investasi
Investasi merupakan unsur GDP yang paling sering berubah. Ketika pengeluaran barang dan jasa turun selama resesi, sebagian besar dari penurunan itu berkaitan dengan turunnya pengeluaran investasi. Perilaku investasi didasarkan dengan asumsi bahwa investor akan berperilaku memaksimumkan nilai kini (present value) dari manfaat finansial dari kegiatan investasi yang tersedia. Pengeluaran investasi sangat tergantung pada tingkat suku bunga, dimana I = I(r). Tingkat investasi yang diinginkan atau direncanakan akan meningkat jika tingkat suku bunga turun. Kondisi ini disebabkan oleh tingkat bunga yang rendah menurunkan biaya modal, maka untuk memiliki barangbarang modal menjadi menguntungkan. (Mankiw, 2003).
 Sumber biaya investasi di Indonesia terdiri atas investasi pemerintah, investasi swasta domestik (PMDN), investasi swasta asing (PMA) dan investasi masyarakat (non-fasilitas). Pengeluaran investasi pemerintah secara langsung dipengaruhi oleh penerimaan pemerintah. Penerimaan pemerintah diutamakan untuk membiayai pengeluaran rutin pemerintah yang mencakup konsumsi pemerintah dan pembayaran bunga dan cicilan hutang luar negeri. Oleh karena itu pembiayaan defisit anggaran pemerintah merupakam pembiayaan investasi pemerintah. Penerimaan pemerintah bersumber dari ekspor migas, pajak dan pinjaman luar negeri Investasi swasta asing merupakan sumber pembiayaan investasi dibanyak negara berkembang. Kondisi ini terutama disebabkan karena pada negara-negara berkembang seperti Indonesia, kemampuan menabung masih rendah. Sehingga sumber investasi asing menjadi alternatif yang tersedia untuk memenuhi target investasi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengalirnya investasi asing dari negara asal ke negara tujuan, antara lain ketersediaan bahan baku, besarnya pasar (market size), harga bahan baku termasuk upah, suku bunga, dan nilai tukar. Dalam meningkatkan investasi dalam negeri, bank memiliki peran penting dalam mengalokasikan sumber dana, dimana bank bertindak sebagai perantara antara orang-orang yang ingin menabung dan orang-orang yang memiliki proyek investasi yang menguntungkan tetapi memerlukan dana .            Berdasarkan pemikiran tersebut, perilaku investasi di Indonesia dirumuskan sebagai berikut :
INV = f ( SB, NTK, GDP, UMR)
dimana:
INV = total investasi
SB = suku bunga
NTK = nilai tukar
GDP = pendapatan nasional
UMR = upah minimum
          (Mankiw, 2003)

Pengeluaran Pemerintah
Pada dasarnya setiap pengeluaran negara dilakukan atas landasan prinsip optimalisasi pemanfaatan dana untuk mencapai sasaran-sasaran yang ditetapkan. Pengeluaran pemerintah harus mampu mencapai beberapa sasaran, seperti peningkatan produktivitas kerja aparatur pemerintah, perluasan jangkauan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat, pembinaan dan pengawasan pelaksanaan pembangunan serta terpeliharanya berbagai aset negara dan hasil pembangunan. Pengeluaran pemerintah (Government Expenditure) adalah pengeluaran
oleh pemerintah untuk membeli barang dan jasa. Sebagian dari pengeluaran pemerintah adalah untuk membiayai administrasi pemerintahan atau pengeluaran rutin dan sebagian lainnya untuk membiayai kegiatan-kegiatan pembangunan atau pengeluaran pembangunan. Pengeluaran rutin pemerintah terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, belanja pemeliharaan, belanja perjalanan dinas, angsuran pinjaman/hutang dan bunga, ganjaran subsidi dan sumbangan pada daerah, pensiun dan bantuan, pengeluaran yang tidak termasuk bagian lain, dan pengeluaran tak terduga.
Pengeluaran pembangunan adalah pengeluaran yang ditujukan untuk membiayai proses perubahan, yang merupakan kemajuan dan perbaikan menuju kearah yang ingin dicapai. Umumnya biaya pembangunan tersebut diprogramkan dalam Daftar Isian Proyek (DIP). Pengeluaran pembangunan semuanya diprogramkan dalam berbagai proyek di setiap sektor dan sub sektor. Pengeluaran pembangunan tersebut dialokasikan ke berbagai sektor sesuai dengan urutan prioritas dan kebijakan pembangunan  (Pakasi, 2005).

Ekspor Bersih
Pada perekonomian terbuka, pengeluaran suatu negara dalam satu tahun tidak perlu sama dengan yang mereka hasilkan dari memproduksi barang dan jasa. Suatu negara dapat melakukan pengeluaran yang lebih banyak daripada memproduksinya dengan meminjam dari luar negeri, atau dapat melakukan pengeluaran yang lebih sedikit dari produksinya dan memberi pinjaman kepada negara lain. Ekspor bersih memperhitungkan perdagangan dengan negara lain. Ekspor bersih adalah nilai barang dan jasa yang diekspor ke negara lain dikurangi nilai barang dan jasa yang diimpor dari negara lain   (Mankiw, 2003)

Pengeluaran output dalam perekonomian terbuka terdiri atas empat komponen yaitu: konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor atas barang dan jasa domestik. Tiga komponen pertama adalah pengeluaran domestic untuk barang dan jasa domestik. Komponen keempat (EX) adalah pengeluaran luar negeri untuk barang dan jasa dometik. Jumlah pengeluaran domestik untuk barang dan jasa luar negeri adalah pengeluaran untuk impor (IM). Dengan demikian ekspor bersih adalah:
NX = GDP – ( CON + INV + GEX )
Persamaan ini menunjukkan bahwa ekspor bersih adalah pengurangan antara output dan pengeluaran domestik. Jika output melebihi pengeluaran domestik, maka ekspor bersih adalah positif. Artinya kita mengekspor perbedaan tersebut. Jika output lebih kecil dari pengeluaran domestik, kita mengimpor perbedaan tersebut, dan ekspor bersih adalah negatif (Mankiw, 2003).

·            Formula GDP
GDP (Gross Domestic product) dihitung dengan cara menjumlahkan semua hasil dari warga negara yang bersangkutan di dalam negeri ditambah warga negara asing yang bekerja di negara yang bersangkutan. GDP dapat dihitung dengan memakai dua pendekatan, yaitu pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan.
Rumus umum untuk GDP dengan pendekatan pengeluaran adalah :
GDP = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + ekspor – impor
Y=C+I+G+(X-M)
Y= GDB (Pendapatan Nasional)
C= Pengeluaran Konsumsi
I= Pengeluaran Investasi
X-M= Ekspor Netto
Fungsi Konsumsi
C= a + bYd
Yd= Y-Tx+Tr
a= Besarnya konsumsi minimum (konsumsi Otonom)
b= Perubahan konsumsi sebagai akibat adanya perubahan Yd
Tx= Tax Revenous
Fungsi Tabungan:
S = Yd – C
S = Yd – (a + bYd
S = Yd – a – bYd
S = Yd – bYd-a
S= -a +(1-b)Yd
-a = Dissaving (utang)                                              (Drs.Samsubar Saleh,M.Soc.Sc., 2011)

Rumus umum untuk GDP dengan pendekatan pendapatan menghitung pendapatan yang diterima faktor produksi:
GDP = sewa + upah + bunga + laba
Di mana sewa adalah pendapatan pemilik faktor produksi tetap seperti tanah, upah untuk tenaga kerja, bunga untuk pemilik modal, dan laba untuk pengusaha.
  
Keseimbangan pendapatan nasional adalah suatu keadaan di mana keinginan masyarakat untuk melakukan perbelanjaan yang digambarkan oleh pengeluaran agregat atau permintaan agregat adalah sama dengan penawaran agregat yaitu keinginan para pengusaha untuk memproduksi barang dan jasa. Keseimbangan Pendapatan Nasional terjadi ketika pengeluaran agregat sama dengan penawaran agregat atau AE=C+I+G+X-M. Selain itu Keseimbangan pendapatan nasional juga dapat dicari dengan pendekatan bocoran dan suntikan aliran dana dalam pendapatan nasional. Keseimbangan terjadi ketika bocoran dalam pendapatan nasional yang terdiri dari: Saving(S), Tax (T) dan Impor (M) sama dengan suntikan yang terdiri dari: Investasi (I), Pengeluaran pemerintah (G) dan Ekspor (X)
        (Sadono Sukirno, 2004)

·         Contoh Perhitungan GDP
Contoh soal 1 : Pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 54.600,3. pengeluaran konsumsi pemerintah 11.423,7. pembentukan modal tetap domestik bruto 19.613,5. perubahan stock 8.851,1. Ekspor barang dan jasa 21.764,7. Impor barang dan jasa 20.186,9. Berapa produk domestik bruto?
Diketahui: C =  54.600,3
       G = 11.423,7
        I = 19.613,5+8.851,1= 28.464,6
       X = 21.764,7
      M = 20.186,9
Ditanya:    Y?
Jawab:       Y = C+I+G+(X-M)
       Y = 54.600,3+28.464,6+11.423,7+(21.764,7-20.186,9)
       Y = 96.066,4
(Suparmoko,2000)
                       
Contoh Soal 2: (Soal olimpiade sains kabupaten (OSK) ekonomi 2006)
Suatu negara mempunyai data pendapatan nasional sebagai berikut :
Konsumsi masyarakat   Rp.  90.000.000
Pendapatan laba usaha  Rp.  20.000.000
Pengeluaran Negara      Rp.130.000.000
Pendapatan sewa          Rp.  40.000.000
Pengeluaran investasi     Rp.  50.000.000
Ekspor                          Rp.  15.000.000
Impor                            Rp.   20.000.000
dari diatas hitunglah pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluara
Jawab : Rumur Pendapatan nasional dengan pendekatan nasional :
Y = C + I + G + (X – M)
Y = 90.000.000 + 50.000.000 + 130.000.000 + (15.000.000 – 20.000.000)
Y = 270.000.000 – 5.000.000.
Y = 265.000.000
Jadi jumlah pendapatan nasional dengan menggunakan pendekatan pengeluaran adalah Rp. 265 Juta.

Contoh Soal ketiga : (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2008)
Data for the calculation of national income shall be as follows :
- Goverment Expenditure   $ 110.500
- Wages                               $   85.000
- Society expenditure         $ 240.400
- Interest                              $ 75.200
- Export                               $ 45.200
- Rent                                  $ 90.000
- Investment                        $ 120.000
- Import                               $    40.000
- Profit                                  $ 90.800
From data above mount of national income with income approach is

Jawab :
pada soal diatas yang ditanyakan adalah jumlah pendapatan nasional dengan pendekatan pendapatan. adapun rumus pendekatan pendapatan adalah sebagai berikut :
Y = r + w + i + p
Y = 90.000 + 85.000 + 75.200 + 90.800
Y = 341.000
Jadi dengan menggunakan metode pendapatan, diperoleh nilai pendapatan nasioan sebesar $ 341.000

2.      GNP (Gross National Product)
·         Konsep
GNP merupakan pendapatan nasional yang dihitung dengan mengeluarkan faktor pendapatan dari warganegara asing yang berdomisili di negara tersebut dan hanya menghitung nilai barang dan jasa yang hanya dihasilkan oleh orang yang berkewarganegaraan negara tersebut saja. Dalam perhitungan, istilah ini lebih sering digunakan karena dapat menggambarkan dengan jelas prestasi ekonomi negara yang bersangkutan tanpa pengaruh dari pihak asing (dalam bentuk penanaman modal asing). Dimana GNP dapat digunakan sebagai indikasi perekonomian suatu negara.  Akan tetapi, Indikator tersebut juga mempunyai kelemahan yaitu Tidak memperhitungkan kegiatan produksi yang bersifat mikro seperti kegiatan rumah tangga, Tidak dapat memperhitungkan kegiatan ekonomi bawah tanah (underground enocomy activities) seperti penghindaran pajak, penyelundupan dan bisnis ilegal lainnya, GNP tidak memperhitungkan nilai dari aktivitas rekreasi, GNP tidak memperhitungkan perubahan kualitas dari barang dan jasa, GNP tidak memperhitungkan biaya polusi dan biaya yang timbul akibat kerusakan lingkungan

·         Formula
Gross Nasional Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB) adalah seluruh nilai produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara suatu negara tertentu biasanya dalam satu tahun.
Rumus : GNP = GDP – Produk netto terhadap luar negeri
·         Contoh Menghitung GNP
Diketahui: GDP sebesar 96.066,4. Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi adalah 3.677,1. Berapakah Gross Nasional Product (GNP)
Jawab: GNP = GDP – Produk netto terhadap luar negeri
GNP = 96.066,4 - 3.677,1 = 92.389,3
(Suparmoko,2000)

3.            NNP (Net National Product)
·         Konsep NNP
Net National Product (NNP) atau Produk Nasional Bersih adalah seluruh nilai produksi barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu negara dalam periode tertentu biasanya satu tahun, setelah dikurangi penyusutan dan barang pengganti modal. NNP oleh banyak orang dianggap lebih tepat untuk menggambarkan kondisi perekonomian nasional karena mengeluarkan faktor penggantian modal (depresiasi) dalam perhitungannya. Jadi Pendapatan Nasional Neto (NNP) adalah pendapatan nasional yang hanya memperhitungkan investasi neto (nilai investasi bersih setelah dikurangi depresiasi dari aktiva investasi)

·         Formula NNP
NNP adalah jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat dalam periode tertentu, setelah dikurangi penyusutan (depresiasi) dan barang pengganti modal.
Rumus : NNP = GNP - (penyusutan + barang pengganti modal)
·         Menghitung NNP
Diketahui: gross national product sebesar 92.389,3. Pajak tak langsung neto sebesar 2.926,0. Penyusutan sebesar 4.768,9. Berapakah nilai net national product (NNP)?
Jawab: NNP = GNP - (penyusutan + barang pengganti modal)
             NNP = 92.389,3 – (4.768,9 + 2.926,0)
 NNP = 84.694,4
(Suparmoko,2000)

B.       THE UNEMPLOYMENT RATE
a.    Angkatan Kerja
Tenaga kerja mencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang melakukan kegiatan lain seperti sekolah dan mengurus rumahtangga. Secara praktis pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga kerja hanya dibedakan oleh batas umur. Tujuan pemilihan batas umur adalah agar defenisi yang diberikan dapat menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Setiap negara memilih batas umur yang berbeda karena situasi tenaga kerja pada masing-masing negara juga berbeda. Batasan umur yang digunakan di Indonesia saat ini adalah 10 tahun ke atas.
           (Arfida, 2003)

Tenaga kerja adalah modal bagi bergeraknya roda pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Secara umum pengukuran ketenagakerjaan dapat didekati dengan dua cara, yaitu : (1) gainful worker approach dan (2) labour force apppoach. Dalam gainful worker approach, seseorang yang dikategorikan tenaga  kerja akan ditanyakan kegiatan yang biasa dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Seseorang yang biasanya sekolah, tetapi saat survey sedang mencari pekerjaan, maka gainful worker approach akan dimasukkan dalam kategori sekolah Maka informasi mengenai pengangguran banyak yang hilang.
          (Mantra, 1995)

b.  Konsep Angkatan Kerja
Konsep angkatan kerja yang digunakan di Indonesia dalam pengumpulan data ketenagakerjaan adalah labor force apppoach yang disarankan oleh International Labor Organization (ILO). Konsep ini membagi penduduk menjadi dua kelompok, yaitu penduduk usia kerja (tenaga kerja) dan penduduk bukan usia kerja (bukan tenaga kerja). Selanjutnya penduduk penduduk usia kerja dibedakan pula menjadi dua kelompok berdasarkan kegiatan utama yang sedang dilakukan, yaitu kelompok  angkatan kerja dan bukan angkatan kerja (BPS, 1998).
Berkaitan dengan konsep tersebut, penduduk yang digolongkan pada kelompok angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yaitu 15 tahun ke atas yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan. Penduduk yang digolongkan bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang masih sekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lain.

Prof. Soemitro Djojohadikusumo mendefinisikan angkatan kerja (labor force) sebagai bagian dari jumlah penduduk yang mempunyai pekerjaan atau yang sedang mencari kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang produktif. dan bukan pekerja atau pengangguran (unemployed). Pekerja adalah penduduk angkatan kerja yang benar-benar mendapat pekerjaan penuh, sedangkan pengangguran adalah penduduk usia kerja tetapi belum mendapatkan kesempatan bekerja. Pekerja (employed) sendiri dikelompokkan menjadi dua, yaitu pekerja penuh (full employed) dan pekerja setengah pengangguran (underemployed). Pekerja penuh adalah angkatan kerja yang sudah memenuhi syarat sebagai pekerja penuh yaitu jam kerja minimal 40 jam per minggu, dan bekerja sesuai dengan keahlian atau berdasarkan pendidikan. Sedangkan setengah pengangguran adalah pekerja yang tidak memenuhi jam kerja minimal sehingga pendapatannya juga di bawah standar minimal. Pekerja seperti ini tingkat produktivitasnya rendah karena mereka bekerja bukan pada bidang keahliannya dan tidak sesuai latar belakang pendidikannya.
Misalnya, sarjana yang bekerja sebagai tukang antar koran di pagi hari. Kelompok angkatan kerja bukan pekerja atau pengangguran (unemployed) ini dikelompokkan lagi menurut sifat dan penyebabnya, yaitu sebagai berikut.

1. Pengangguran berdasarkan sifatnya ada tiga macam, yaitu sebagai berikut.
·         Pengangguran terbuka merupakan bagian dari angkatan kerja yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan (baik bagi mereka yang belum pernah bekerja sama sekali maupun yang sudah penah bekerja), atau sedang mempersiapkan suatu usaha, mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan dan mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.
·         Setengah pengangguran, adalah tenaga kerja yang bekerja tidak optimum dilihat dari jam kerja. Dengan kata lain, jam kerjanya dalam satu minggu kurang dari 40 jam.
·         Pengangguran terselubung, adalah tenaga kerja yang bekerja secara tidak optimum karena kelebihan tenaga kerja. Misalnya seorang petani yang menggarap sawah sebenarnya cukup dikerjakan oleh satu orang, tetapi karena anaknya tidak punya pekerjaan maka ia ikut menggarap tanah tersebut. Dalam hal ini anak petani tersebut termasuk pengangguran terselubung.

2. Pengangguran berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi berikut ini.
·         Pengangguran siklis atau karena siklus konjungtur, yaitu pengangguran yang terjadi akibat gelombang konjungtur atau perubahan naik turunnya gelombang ekonomi. Misalnya, pengangguran karena PHK massal akibat resesi ekonomi
·         Pengangguran friksi atau pengangguran sementara, yaitu pengangguran sementara waktu. Misalnya, seseorang yang sedang menunggu waktu panggilan mulai kerja.
·         Pengangguran teknologi, yaitu pengangguran akibat perubahan teknologi seperti teknologi manual menjadi teknologi elektronik. Misalnya, seseorang yang tidak mampu memenuhi tuntutan pekerjaan untuk menggunakan komputer maka dengan sendirinya ia akan digantikan oleh karyawan lain yang mampu menggunakan komputer.
·         Pengangguran musiman, yaitu pengangguran akibat perubahan musim atau kegagalan musim. Misalnya, petani menganggur karena musim paceklik, nelayan menganggur karena musim badai.
·         Pengangguran voluntary, yaitu pengangguran yang terjadi karena seseorang yang masih mampu bekerja tetapi dengan sukarela ia tidak bekerja karena telah memiliki penghasilan dari harta kekayaan mereka. Misalnya: menyewakan rumah, kendaraan, dan menikmati bunga uang simpanan.
·         Pengangguran struktural, yaitu pengangguran karena perubahan struktur ekonomi. Misalnya, negara agraris yang berubah menjadi Negara industri, lahan-lahan pertanian digunakan untuk pabrik sedangkan tenaga kerjanya belum mempunyai keterampilan di sektor industri. Uraian di atas apabila diterjemahkan dalam bentuk bagan akan tampak seperti berikut.


c.       Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja atau permintaan tenaga kerja merupakan banyaknya orang yang bekerja pada berbagai sektor perekonomian, baik sektor pertanian, industri maupun jasa. Permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan (derived demand), artinya permintaan tenaga kerja oleh suatu perusahaan tergantung pada permintaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut.   (Bellante dan Jackson, 1983)

d.      Pengangguran
Pengangguran merupakan masalah makroekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan yang paling berat. Lucas dalam Romer (1996) menyatakan bahwa pengangguran disebabkan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pekerja dan pengusaha. Pekerja membuat kesalahan mengenai upah riil dan melepas pekerjaannya atau menolak pekerjaan yang ditawarkan karena upah yang terlalu rendah. Pengusaha juga membuat kesalahan tentang permintaan dan kadang-kadang memproduksi dalam jumlah yang terlalu kecil dan sedikit mempekerjakan pekerja. Oleh karena manusia merupakan makhluk yang rasional, yang melihat ke depan dalam membuat pengharapan, kesalahan akan diperbaiki dengan segera dan pengangguran akan hilang. Pengangguran terjadi akibat dari kurangnya permintaan tenaga kerja dalam perekonomian dibandingkan jumlah pekerja yang menawarkan tenaga kerjanya, pada tingkat upah dan harga yang sedang berlaku. Meskipun demikian, terbuka kemungkinan bagi tingkat permintaan keseluruhannya mencapai taraf cukup tinggi untuk memberikan kesempatan kerja bagi seluruh angkatan kerja, tetapi bagi sejumlah besar pekerja berada dalam keadaan menganggur. Para pekerja ini dapat digolongkan sebagai penganggur yang bersifat friksional maupun structural.   (Bellante dan Jackson, 1990).

Pengangguran friksional merupakan pengangguran yang disebabkan oleh adanya ketidaklancaran dalam proses bertemunya penawaran dan permintaan tenaga kerja. Penyebab dari ketidaklancaran ini adalah karena tempat dan waktu. Pengangguran struktural terjadi akibat perubahan dominasi peranan ekonomi setiap sektor dalam kegiatan produksi maupun dalam pemberian kesempatan kerja. Banyak aspek pekerjaan yang mempunyai tuntutan atau persyaratan yang belum tentu dapat dipenuhi oleh penawaran tenaga kerja dari sektor atau subsector lain. Pengangguran dapat juga disebabkan oleh kurangnya permintaan agregat. Permintaan total masyarakat merupakan dasar untuk diadakannya kegiatan investasi. Pengeluaran investasi memberikan peluang untuk tumbuhnya kesempatan kerja. Bila permintaan terhadap barang dan jasa lesu, maka akan menimbulkan kelesuan pada permintaan tenaga kerja, yang dapat mengakibatkan terjadinya pengangguran. Kurangnya permintaan agregat disini merupakan kondisi dalam jangka panjang. Profil yang perlu diketahui adalah tempat terjadinya pengangguran menurut sektor ekonomi, baik disektor pertanian maupun manufaktur, distribusi menurut pendidikan, jenis jabatan dan pekerjaan yang diminati, umur, dan jenis kelamin.
            (Arfida, 2003)
Pengangguran merupakan salah satu masalah ketenagakerjaan di Indonesia yang tidak pernah surut. Para penganggur akan menjadi kelompok yang terpinggirkan, yang secara alamiah akan terbentuk McGee sebagai protoproletariat, atau massa apung/proletriat perkotaan yang sangat berpotensi sebagai pengganggu stabilitas negara. Beberapa faktor penyebab masalah
pengangguran di Indonesia adalah:

·         Orientasi kebijakan pembangunan ekonomi. Sistem ekonomi konglomerasi yang dijadikan sebagai engine of growth oleh Indonesia selama rezim orde baru sangat bertumpu dan mengandalkan aspek pertumbuhan. Pada saat itu perusahaan perusahaan besar tumbuh dengan pesat dan memperoleh privilege (hak istimewa) dari pemerintah. Akibatnya faktor kesempatan kerja penuh terabaikan, sehingga pengangguran semakin meningkat.
·         Kebijakan pengembangan sumberdaya manusia. Rendahnya perhatian pemerintah pada bidang pendidikan terlihat dari persentase pengeluaran pemerintah pada bidang tersebut. Pada sisi lain, pendidikan non formal atau pelatihan sebagai cara untuk mempersiapkan tenaga kerja siap pakai juga belum berjalan sesuai keinginan. Lembaga-lembaga pelatihan yang dikelola Depnakertrans belum mampu mengimbangi syarat-syarat edukasi yang diminta pihak pengusaha.
·         Daya saing industri. Asumsinya, bila industri memiliki daya saing yang kuat, maka industri akan maju, dan kesempatan kerja akan tercipta, dan pengangguran akan tertekan serendah mungkin. Demikian pula sebaliknya. Namun demikian, daya saing industri di Indonesia masih tergolong rendah, hanya beberapa golongan industri yang memiliki daya saing tinggi, seperti industri makanan, pengolahan tembakau, industri kayu, industri perabot dan kelengkapan rumah tangga, pulp dan kertas dan industri elektronik. Sementara industri tekstil dan pakaian jadi memiliki daya saing sedang, sedangkan industri kulit dan alas kaki memiliki daya saing rendah.
·         Globalisasi. Pada aspek ketenagakerjaan, aspek turunan dari globalisasi adalah persaingan bebas yang terjadi di dalam dan luar negeri. Pergerakan tenaga kerja dari satu negara ke negara lain semakin bebas, sehingga menjadi suatu tekanan bagi tenaga kerja yang tidak dapat bersaing. Pada sisi lain, bagi Indonesia dengan kondisi berlebihan tenaga kerja dan negara pengirim tenaga kerja ke luar negeri, globalisasi merupakan kesempatan untuk mengurangi penekanan dari tingginya jumlah pengangguran dan pekerja migran yang datang dari luar negeri.
(Depnakertrans, 2004)


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Chacha Mari Cha Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare

welcome to chacha blog.